Mengapa Kisah Kanjeng Ratu Kidul masih Bertahan di Tengah Modernitas?

Kisah Kanjeng Ratu Kidul – Di tengah terpaan ideologi modern yang cukup dahsyat dalam memporak-pondakkan kebudayaan Jawa. Manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kesultanan Yogyakarta masih tetap menyimpan pandangan-pandangan yang berkaitan dengan keberadaan maklhuk-maklhuk supranatural dan kekuasaan adikodrati dalam sistem kepercayaan mereka.

Pandangan-pandangan yang dalam konstruksi modernitas seringkali dianggap tidak rasional ini rupanya masih mempengaruhi alam pikir sebagian masyarakat Jawa.

Kisah Kanjeng Ratu Kidul masih Bertahan di Tengah Modernitas
Ilustrasi Kanjeng Ratu Kidul

Sampai sekarang, kisah-kisah tradisional seperti cerita mengenai Kanjeng Ratu Kidul di laut selatan Jawa masih sangat berpengaruh dalam keseharian masyarakat Yogyakarta. Terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar Kraton dan pesisir selatan.

Buktinya, praktek-praktek spiritual yang dilakukan oleh Kraton, warga, atau pun individu tertentu di pesisir selatan seperti labuhan, laku prihatin, serta tindakan minta berkah kepada Kanjeng Ratu Kidul masih kerap dilakukan.

Eksistensi praktek-praktek ritual tradisional di tengah dunia modern ini rupanya mengundang minat Argo Twikromo. Dosen Antropologi UGM ini, mencoba mengulas mengapa praktek-praktek tersebut masih dipertahankan.

Menurut Argo dalam catatanya pada buku Ratu Kidul (2000), praktek-praktek tradisonal ini masih bertahan dikarenakan beberapa aspek yakni:

Catatan Kisah Kanjeng Ratu Kidul Menurut Argo

1. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul

Mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahannya. Hal ini didorong oleh adanya pandangan yang beredar di kalangan masyarakat Yogyakarta bahwa raja yang baik merupakan raja yang mampu memberi ketentraman lahir dan batin bagi rakyatnya. Dengan demikian, praktek-praktek ritual yang dilakukan oleh pihak kerajaan seperti labuhan merupakan cerminan dari kedekatan raja Jawa terhadap kekuatan spiritual di laut selatan. Dengan kedekatan yang ada sang raja bisa mendapat legitimasi sebagai penguasa yang mampu memberi ketentraman lahir dan batin terhadap rakyatnya.

Baca:  Kuliner Jogja Paling Laris, Wajib Dikunjungi Dengan Rasa Yang Khas

2. Praktek penghormatan

Praktek penghormatan masih bisa ditemukan karena praktek ini tak hanya dipercayai oleh pihak Kasultanan, tapi juga oleh individu serta masyarakat Yogyakarta. Hal ini didorong oleh adanya kemiripan gagasan religius mereka tentang lingkungan yakni, betapa pentingnya beradaptasi dengan kekuatan alam yang seringkali di luar jangkauan manusia.

3. Kraton Yogyakarta dipandang sebagai kekuatan kosmis yang keramat

Kraton Yogyakarta dipandang sebagai kekuatan kosmis yang keramat. Kedudukannya secara mistis berkaitan erat dengan Kraton Laut Selatan, Kayangan Ndlepih, Kraton Merapi, dan Kraton Lawu. Kelima kraton tersebut merupakan lima kerajaan yang teramat keramat dan sulit dipisahkan. Keberadaan masing-masing kraton saling berkaitan, karena kelimanya membentuk tatanan dunia dengan Kraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Oleh karena itu,diperlukan beberapa ritual guna menjalin persahabatan antarkraton supaya tatanan dunia yang dibangun tidak rusak.

4. Sistem keprcayaan masyarakat JawaKisah Kanjeng Ratu Kidul

Sistem keprcayaan masyarakat Jawa, yang disebut oleh antropolog kawakan Cilfford Geertz sebagai agama Jawa. Pada dasarnya lebih menekankan ketentraman batin, keselarasan, dan keseimbangan. Dengan demikian, ritual-ritual yang dilakukan oleh pihak kraton atau pun masyarakat terhadap Kanjeng Ratu Kidul digunakan sebagai sarana untuk mencapai ketentraman, keselarasan, dan keseimbangan dunia.

Oleh sebab itu, kepercayaan ini masih bertahan dan menyisakan ritual-ritual unik yang bisa dihadiri oleh para pelancong dari luar kota. Jika Anda ingin menikmati sensasinya silakan berku junga ke panatai selatan Yogyakarta saban malam tahun baru Suro. Akan tetapi, Anda tetap harus menghormati kultur setempat.

Tinggalkan komentar